Duka Tanpa Aba-aba


Kita menjerit-jerit seperti burung pipit yang terhimpit

Duka yang tak pernah diduga datang dari segerombolan orang

Yang pernah bertandang ke kandangnya dengan niat baik 

Tanpa dicurigai apa-apa

Hingga fajar tiba dan semua menjadi porak-poranda


Wanita tua itu menggigil tandus di ujung nestapa

Ia menyalahkan semesta yang tak pernah menyediakan tempat

bahagianya tinggal selain kutukan


Suara nyalangnya terendam lautan merah darah yang

Setiap pagi selalu terisi penuh bau anyir

Tenggorokannya kerontang mengelupas satu-persatu

Meninggalkan tragedi yang tak pernah berhenti


“Bukankah kita sudah merdeka ?”

Rasanya masih hampa dan hambar

Ketakutan masih bergerombol dan berkeliaran di mana-mana




Cikarang, 2020



******


Dilarang plagiat. Puisi ini telah dibukukan dan menjadi juara harapan 2 dalam lomba yang telah dilaksanakan oleh Poethry Publisher.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Personal Branding di Era Digital

Sajak Negeri

Pemburu Kelamin