Postingan

CERPEN - Seberkas Cahaya di Langit Senja

Gambar
                                                     Seberkas Cahaya di Langit Senja Oleh : Sintia NA   Senja menelanjangiku, sedangkan debur ombak ikut menertawakan. Katanya, aku adalah wanita bodoh berkepala terumbu karang. Yang beberapa kali mereka mengabarkan bahwa seseorang yang kutunggu tak akan datang, selalu tak kuhiraukan. Sama sekali, kakiku tak beranjak dari tempat semula meski hanya satu senti. Aku meyakini satu hal tentang segala yang aku jalani dengannya. Dia, adalah orang yang selalu menepati janji sesulit apa pun itu. Meski sudah hampir dua jam aku menunggu di sini, seperti orang bodoh sekarat yang siap mati.   Kutatap langit yang mulai memerah dan matahari yang siap menuju peraduannya. Ini adalah tempat fav...

CERPEN - Toples Selai Kacang

Toples Selai Kacang Oleh : Sintia NA Pagi ini, aku bangun dengan perut keroncongan. Semalam memang tak sempat ikut makan bersama rombongan. Aku sedang pura-pura sok sibuk, melukis dinding-dinding rumah waktu itu. Saat hendak keluar rumah mencari makan ibu berpesan untuk hati-hati, lantas segera pulang. Dari raut wajah ibu aku tahu, dia sulit merelakan aku pergi sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi tak ada seorang pun yang bisa menemaniku. Teman-teman dan rombongan yang lain jam segini masih mencari makanan, dan aku tidak bisa menunggu lama. Mereka pulang saat matahari menyingsing, ketika punggung-punggung mereka sudah berat oleh makanan. Aku berjalan pelan, sesekali berhenti atau bersembunyi saat orang berseragam putih-putih yang membawa selang infus atau pun stetoskop hampir dekat denganku. Bagaimana aku tahu nama-nama benda aneh itu? Aku selalu mendengar dengan seksama ketika mereka berbicara, sesekali aku pernah menyentuh benda itu saking penasarannya. Aku hanya perlu...

CERPEN - Mading Sekolah

Mading Sekolah Oleh : Sintia NA Air mata adalah sumber ketulusan yang sesungguhnya, ketika kita lelah menghadapi segalanya namun tetap berusaha. Saat itulah keajaiban akan datang dan membantumu menghadapi semuanya. ***** Aku tergesa berangkat ke sekolah. Semua karena tumpukkan kertas yang harus aku cetak terlebih dahulu, dan harus aku selesaikan hari ini juga. Menjadi ketua mading memang tidak semudah yang dikatakan kebanyakan orang, yang katanya hanya mencopot dan melepaskan tulisan saja. Kueratkan beberapa buku yang tidak muat ditampung dalam tas. Berjalan secepat yang aku bisa. Aku harus lebih dulu berada di sekolah dibandingkan siswa lain. Tepat ketika jam menunjukkan pkl 07.10 aku berada di sekolah. Aku usap peluh yang membanjiri kening, mengatur napas sejenak sebelum memasuki gerbang. Aku memicingkan mata ketika melihat seorang siswa yang berseragam sama denganku sudah berada di dalam gedung sekolah. Seingatku, tidak pernah ada yang sepagi ini datan...

CERMIN - Lorong Kegelapan

Gambar
Lorong Kegelapan Oleh : Sintia NA Aku hanyalah anak remaja pada umumnya. Suka sekali bermain bersama teman-teman. Menghabiskan waktu di luar hingga Ibu memanggilku untuk pulang. Awalnya baik-baik saja. Aku menyukai masa remajaku, hingga sesuatu terjadi. Dan itu membuat dunia serta pikiranku berubah. Aku yang dulunya bersyukur memiliki Ayah dan Ibu kini mengutuk mereka. Aku benci terlahir sebagai ‘Deliana Marina’ Jika bisa aku memilih, bolehkah aku terlahir sebagai orang lain saja Tuhan? ********** “Deliana, cepat bereskan semuanya!” Aku muak mendengar wanita paruh baya itu terus saja memerintahku seenaknya. Dia pikir aku ini robot yang bisa diperlakukan semaunya tanpa perlu beristirahat. Entah, kapan penderitaanku ini akan berakhir. Saat pagi, aku menjadi remaja berumur lima belas tahun yang selalu membersihkan rumah tanpa lelah. Sedangkan pada malam hari, mau tidak mau aku harus menjadi wanita berumur dua puluh tahun untuk melayani ...