Postingan

CERPEN - Mengabadikan Kenangan

Gambar
Oleh : Sintia NA Aku menunggu, disebuah kursi bising tempat berlalu-lalang ingatan dan speaker-speaker tanda keberangkatan perjalanan dibunyikan. Sebentar lagi kamu akan datang, katamu di akhir chattingan kita. Sembari menunggu, kutimang-timang waktu, kuabadikan kenangan lewat lensa kamera. Aku lesatkan pandangan ke segala sudut yang bisa tertangkap retina. Perjalanan selalu menyimpan kenangan-kenangan yang sayang dilewatkan katanya. Sebab itulah, aku tak ingin melewatkan sebuah kejadian begitu saja. Aku menemukan pasangan muda yang sepertinya suami istri. Mereka membawa seorang anak berumur 3 tahun yang sangat putih. Sepatu anak itu lepas, lalu dia memanggil ayahnya dengan imut. Menunjuk-nunjuk kalau sepatunya terjatuh. Lantas, ayah anak itu mengambil alih gendongan dari ibunya, menurunkan anak itu kemudian memakaikan sepatunya. Sebagian orang mungkin menganggap itu adalah hal biasa. Tapi, menurutku itu adalah pengajaran sejak dini dari seorang ayah untuk anakn...

My Journey - STORY OF 2018

Gambar
PART 1 Karawang, Januari-2018 Sebagai seseorang yang sejak kecil sudah senang bepergian dan berpindah-pindah tempat tinggal. Aku termasuk yang mudah sekali untuk beradaptasi dengan lingkungan. Aku terlalu cerewet untuk seseorang yang sangat menyukai warna coklat. Karena, seseorang yang menyukai warna kalem biasanya pendiam juga, katanya. Januari, 2018. Petualanganku kembali dimulai, untuk menjajaki salah satu kota yang ada di Indonesia, khususnya pulau Jawa. Kali ini, aku menyinggahi sebuah kota yang selalu menduduki UMK paling tinggi di pulau Jawa. Yaitu, Karawang. Sebelum, aku memutuskan untuk pindah ke sana. Beberapa hal yang harus aku urusi dan persiapkan adalah, surat pindah kampus. Aku sudah memikirkan matang-matang, jika ingin pindah ke sana. Dan memang beruntungnya, kampusku itu memiliki 5 cabang kampus yang berpusat di Bekasi. Kita bisa pindah ke cabang kampus mana pun, asalkan harus menyelesaikan 1 semester full hingga UAS di kampus bersangk...

Cerita Mini - Pulang ke Pangkuan

Gambar
Aku terseok, menyusuri setapak yang seperti tak berujung. Diikuti senja dengan terburu-buru. Duka sedang bergerombol mengerubungiku sekarang. Air mata kutahan sebisa mungkin agar tak jatuh lebih banyak lagi. Aku ingin sekali menolak untuk percaya, tentang semua ini. Masa-masa silam yang telah terlalui jauh tiba-tiba melemparkanku pada ingatan tentang bagaimana aku mengenal sosoknya. Laki-laki yag dua tahun lebih tua dariku. Seorang teman yang selalu rela untuk direpotkan tanpa mengeluhkan apa-apa. Perkenalan kita bermula ketika, aku dengannya diterima di perusahaan yang sama dan ditempatkan di bagian yang sama juga. Dia adalah tipe laki-laki yang agak pendiam dan lembut. Mukanya selalu ramah, jarang sekali aku mendapati wajahnya bermuka kecut saat berbincang atau bertemu dengan orang. Senyumnya sangat lebar, dan ia mempunyai suara tawa yang khas. Beberapa kali pun kita pernah melakukan perjalan bersama dengan teman-teman yang lain yang seangkatan dan sebagian juga. Hang out d...

Gelombang di Dalam Tubuhmu

Gambar
Gelombang di Dalam Tubuhmu Oleh : Sintia NA Tak ada yang lebih menyebalkan untuk dilakukan selain menunggu seseorang di bawah terik yang rasanya melubangi kepala. Cuaca di sini memang tak segersang ibu kota. Tapi, cukup untuk membuat jilbab yang digunakan perempuan berbaju serba coklat itu lepek. Dari gelagatnya ia ingin segera menceburkan diri ke dasar laut, naasnya hal itu tak mungkin bisa ia lakukan. Dengan perasaan dongkol yang membuncah ia melirik ke sana-kemari, siapa tahu ia menemukan orang yang dicarinya segera. Jika saja jarak dari tempat ia berdiri ke kampung halamannya itu hanya menempuh waktu sebentar dan ia tidak lupa jalan, sudah dipastikan sedari tadi ia menginjakan kakinya kembali di tanah Madura ia tidak akan menunggu lama. Perempuan itu kembali menghela napasnya, entah itu helaan napas yang keberapa di waktunya menunggu satu jam. Tepat di satu jam lebih 30 detik, seseorang yang ditunggunya akhirnya datang. Arumna, laki-laki sekaligus sepupunya ...

Badai September

Gambar
Terima kasih, karena sempat hadir dan menetap memberikan kebahagiaan meski hanya sebentar. Hampir semua orang tidak menyukai sebuah perpisahan, tak terkecuali kita. Kita dipaksa untuk tidak saling mengungkapkan lagi apa yang kita rasakan di hari-hari esok. Tentang rindu, cemas, sesak, keinginan untuk saling memiliki. Berbalas pesan seperlunya tanpa menggunakan emoticon apa-apa. Kita menjadi dua manusia canggung, yang memilih untuk tidak bertatap muka untuk waktu yang lama. Bukan apa-apa, aku hanya belum siap bertatap muka dengan orang yang pernah benar-benar aku diskusikan dengan Rabb-ku pada malam-malamku. Yang ujung-ujungnya takdir memang harus memisahkan kita. Kamu dengan jalanmu dan aku dengan tujuanku. Tentang perpisahan kita, aku tidak setangguh itu, untuk tidak menangis parah ketika melepaskan kepergianmu. Aku tetaplah seorang wanita yang dipaksa untuk melepaskan hal yang dia sayang ketika dia benar-benar menginginkan itu. Hanya saja, aku lebih memilih menyimpan ker...

Pemburu Kelamin

Gambar
Pemburu Kelamin Oleh : Sintia NA Di sebuah desa yang jauh dari perkotaan, tepatnya terletak di pulau Jawa. Terdapat mitos atau pun hal tak masuk akal terjadi yang menyeruak di antara mereka. Yang mungkin sebagian orang tak mempercayainya. Sesuatu yang sangat meresahkan dan membuat takut. Semuanya bermula ketika seorang gadis belia   melakukan sebuah perjalanan sendirian ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar di saat sore hari. Menjelang malam gadis itu tidak pulang-pulang, padahal Ibunya tahu betul, anaknya tidak pernah selama itu jika hanya untuk mencari sebuah kayu bakar. Semua penduduk Desa dikerahkan, disetiap penjuru hutan mereka disebarkan, namun naas gadis itu tidak ditemukan sama sekali. Keesokan paginya, warga kembali mencari, Gadis itu tergeletak tak berdaya di dekat sebuah batang pohon besar, yang warga yakini semalam mereka telah menelusuri area itu tapi tidak menemukan apa-apa. Yang memprihatinkan adalah keadaannya, dia tidak memakai apa pun,...

CERPEN - Seberkas Cahaya di Langit Senja

Gambar
                                                     Seberkas Cahaya di Langit Senja Oleh : Sintia NA   Senja menelanjangiku, sedangkan debur ombak ikut menertawakan. Katanya, aku adalah wanita bodoh berkepala terumbu karang. Yang beberapa kali mereka mengabarkan bahwa seseorang yang kutunggu tak akan datang, selalu tak kuhiraukan. Sama sekali, kakiku tak beranjak dari tempat semula meski hanya satu senti. Aku meyakini satu hal tentang segala yang aku jalani dengannya. Dia, adalah orang yang selalu menepati janji sesulit apa pun itu. Meski sudah hampir dua jam aku menunggu di sini, seperti orang bodoh sekarat yang siap mati.   Kutatap langit yang mulai memerah dan matahari yang siap menuju peraduannya. Ini adalah tempat fav...